"Orang yang sukses adalah orang yang istiqomah di dalam amal baik."
(Habib Alwi bin Muhammad bin Tohir Al-Haddad)
"Orang yang sukses adalah orang yang istiqomah di dalam amal baik."
(Habib Alwi bin Muhammad bin Tohir Al-Haddad)
Assalamualaikum,
Seorang hamba dituntut untuk meminta kepada Tuhannya agar dapat melihat kebaikan-kebaikan para makhluk-Nya, juga agar dapat menutupi aib-aib mereka.
Jika ia telah menyaksikan kebaikan-kebaikan mereka, maka ia akan berprasangka baik (husnuddhon) kepada mereka. Jika ternyata ia belum melaksanakan kebajikan yang telah mereka lakukan , maka hendaknya ia berusaha dengan sungguh-sungguh, dan bertawajjuh kepada Allah agar Ia menganugerahkan kebaikan-kebaikan itu kepadanya, karena ia tidak akan memperoleh apa pun kecuali dengan pertolongan Tuhannya. Dengan berbuat demikian, Allah akan memudahkan dan menyampaikannya pada kebaikan tersebut. Karena barang siapa memohon pertolongan kepada Allah,niscaya ia akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus.
“Kalian semua sesat kecuali yang telah Kuberi petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, nanti Aku akan memberi petunjuk kepada.” (HR Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad, baihaqi dan Darimi)
Jika kebaikan yang ia miliki ternyata lebih baik dan lebih sempurna, maka hendaknya ia meminta agar Allah menambah kebaikannya, bersyukur atas taufik yang diberikan Allah kepadanya, dan bersyukur karena Allah telah mengkhususkannya untuk memperoleh kebaikan itu. Jika ia berbuat demikian, ia akan memperoleh kebaikan tambahan.
Jangan sampai kebaikan itu membuatnya merasa ujub (berbangga diri). Jangan sampai ia memandang dirinya lebih baik dari yang lain, jangan sampai karunia yang diberikan Allah kepadanya menimbulkan perasaan sombong. Karena, sesungguhnya dirinya dan juga orang lain berada dalam tawanan kekuasaan dan kehendak Allah. Ia seharusnya merasa takut jika suatu waktu Allah mencabut kebaikan-kebaikannya kemudian memberikannya kepada orang-orang lain, dan sebagai gantinya, ia melaksanakan keburukan-keburukan
mereka.
Jika Allah menunjukkan keburukan seseorang, maka ia dituntut untuk berakhlak dengan akhlak Tuhannya Yang Maha Pengasih, yakni mengasihi mereka dan menutupi aib-aibnya. Karena sesungguhnya keburukan yang Allah tampakkan adalah rahasia yang dipercayakan Allah kepadanya dengan tujuan agar ia dapat menyimpan rahasia itu, kemudian dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut memberikan nasihat kepada orang itu, atau melalui sindiran, atau dengan cara lain yang baik sebagaimana teguran Rasulullah SAW kepada para sahabatnya:
“Mengapa sekelompok orang berbuat demikian, hendaknya mereka menghentikan perbuatannya.” (C:13)
Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi ialah salah satu auliya (kekasih) Allah SWT yang kata-kata dan petuanya selalu diterima setiap insan. Perbuatan dan perangainya selalu menjadi teladan bagi mereka. Majelis beliau senantiasa dipadati oleh orang-orang yang hendak mendulang ilmu dan sir dari beliau. Tidak terkecuali orang yang berilmu pun turut hadir di majelis itu, karena mereka melihat derasnya hikmah dan rahasia-rahasia yang bermutu tinggi yang disampaikan oleh beliau.
Kata-kata mutiara beliau senantiasa membasahi hati yang gersang bak air hujan yang membasahi tanah yang tandus sehingga menyuburkannya. Memang benar bahwa ilmu (hikmah) yang disampaikan seorang Arif billah, akan memberikan ketenangan dan kesejujkan hati ibarat air hujan memberikan kesuburan pada pepohonan.
Marilah kita simak dengan cermat dan laksanakan sebagian nasehat yang beliau sampaikan pada malam Senin 24 Muharram 1324 H di salah satu majelis beliau yang mulia. Insya-allah kita tergolong kaum yang mencintai beliau dan para salaf sholeh, sehingga kita kelak dikumpulkan bersama mereka. Amin.
Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi berkata,
“Wahai saudara-saudaraku, hati-hati telah menjadi kaku dan beku, tidak ada lagi bekas dan pengaruh dari al Quran maupun nasehat para ulama yang selalu didengarnya. Sedang kita tidak tahu apa gerangan penyebab kekerasan hati itu. Ketahuilah bahwa penyebab terbesar dan yang paling dominan adalah karena makanan yang kotor (syubhat atau haram) yang masuk ke perut kita, saat ini banyak orang tidak perduli dan bahkan tidak takut untuk jatuh pada keharaman. Mereka meremehkan masalah ini.
Bagaimana mungkin nasehat dan petuah yang sampai akan memberikan atsar (pengaruh) dan membekas di hati, sedang makanan yang dikonsumsi adalah haram? Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari keharaman di mana pun dan kapan pun kita berada, serta menghalangi dan membentengi kita dari orang yang suka keharaman.
Ketahuilah, keluarga kita (para salaf sholeh), thariqah (jalan) mereka adalah mencari yang halal dan bersikap wara’ (berhati hati/menjaga diri). Hati-hatilah saudaraku dari makanan haram. Kekasih kalian Nabi Muhammad SAW telah bersabda (yang artinya), “Setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram maka neraka lebih pantas untuknya”.
Hadits di atas sudah cukup populer dan sering disampaikan sebagaimana terdapat dalam kitab Kasyful Khafa’ karya Al Imam Al ‘Ajaluniy ra. Imam Sahl bin Abdillah At Usturi, salah seorang ulama salaf berkata,
“Siapa memakan yang haram, maka tubuhnya akan bermaksiat, dia mau atau tidak, Dan siapa yang memakan yang halal maka tubuhnya akan berbuat taat, dia mau atau tidak”.
Pada masa kita ini, nyaris tidak ditemukan lagi orang yang wara’ kecuali sangat sedikit kebanyakan mereka telah terjerumus dalam keharaman. Ketahuilah bahwa hati ini akan menjadi gelap karena makanan haram, baik dia menyadari dan mengetahuinya atau tidak. Baiklah jika memang dia tidak mengetahui bahwa yang dimakannya adalah haram, ini mungkin agak ringan (tetapi tetap akan menyebabkan kegelapan hatinya).
Tapi yang dengan sengaja melakukannya maka celakalah dia, binasalah dia. Sebab siapa memasukkan satu suapan haram pada tubuhnya maka sholatnya tidak diterima oleh Allah selama suapan itu masih berada dalam tubuhnya. Siapa yang sholat dengan baju yang disana terdapat satu benang (kain) yang haram maka sholatnya tidak diterima oleh Allah selama baju itu melekat ditubuhnya. Lalu apa faedah yang akan didapat dari amalnya jika ternyata itu semua tidak diterima? Bagaimana mungkin cahaya akan masuk ke dalam hati yang gelap gulita?
Saat ini, jika kamu datang kepada sekelompok orang lalu membicarakan masalah ke-wara’-an, maka mereka akan berkata,
”Kamu ini siapa?”
“Kamu sedang berada di mana?”
“Sekarang manusia semua sudah makan yang haram. Di mana yang halal?”
“Kamu mau makan apa?”
Ketahuilah bahwa kata-kata semacam ini adalah kurang ajar dan menentang (berani) kepada Allah SWT. Padahal bumi Allah sangatlah luas, jika dia mau berusaha pasti akan mendapatkan yang halal sekalipun dengan usaha yang keras.
Yang lebih mengherankan lagi bahwa ada sebagian manusia yang berakal, memiliki pikiran, tetapi sengaja memakan yang haram padahal dia tahu bahwa dengan perbuatannya itu dia akan diadzab oleh Allah. Sebab jika dia melakukan itu dia akan terseret ke dalam neraka, maka tinggalkanlah makanan haram, pasti akan datang kepada kalian makanan yang halal.
Nabi Muhammad saw bersabda (yang artinya),
“Yang halal itu jelas dan haram juga jelas, dan antara keduanya adalah perkara yang syubhat (remang-remang), banyak manusia tidak mengetahui kejelasannya. Maka siapa yang manjaga diri dari barang syubhat ini, maka dia telah menjaga harga diri dan agamanya. Dan siapa yang terjerumus pada syubhat maka dia akan terjerumus pada yang haram, ibarat seorang pengembala yang menggembalakan kambingnya di dekat daerah larangan maka dia nyaris akan memasuki daerah larangan itu.”
(Riwayat Bukhari & Muslim)
Saat ini, hampir tidak ada mudzakarah (pengajian) tentang wara’, sebab jika ada yang menyebutkamya maka dia akan diam karena khawatir akan diingkari oleh orang lain, sebab keharaman sudah membaur di antara masyarakat. Inilah hari di mana kebenaran banyak disepelekan. Nasehat sudah tidak masuk ke dalam hati dan rasa takut kepada Allah sudah tidak bersemayam lagi dalam kalbu. Dan sebabnya adalah makanan haram yang mengeraskan dan menggelapkan hati.
Saat ini banyak orang yang datang kepada kita dan menipu kita dengan menyuruh agar uang-uang kita ditabung di bank (agar menghasilkan bunga yang banyak), anak-anak kecil yang mendapat harta warisan yang banyak, mereka diperdaya agar uangnya disimpan sehingga ketika anak itu sudah baligh maka dia akan mendapati hartanya telah tercampur dengan keharaman.
Maka dari itu jagalah diri kita dan keluarga kita terutama dari hal yang semacam ini, jangan sampai tubuh mereka terisi makanan syubhat apalagi haram, sekuat apapun usaha kita untuk mengarahkan mereka ke jalan yang lurus, namun jika makanan yang kita berikan tidak benar, maka akan sia-sia usaha tersebut. Dan kita larang mereka sekuat tenaga dari kemungkaran, maka itu pun akan sia-sia. Karena makanan baram telah mendarah daging dengan mereka.
Dalam atsar disebutkan,
“Jika kalian banyak sholat sehingga menjadi seperti tiang-tiang, bannyak berpuasa sehingga kurus kering seperti tali busur, semua ibadah itu tidak akan diterima kecuali jika dilandasi dengan kewara’an yang tinggi“.
Al Habib Abdullah bin Alawiy Al Haddad RA dalam untaian nasehatnya menyatakan,
“Ketahuilah semoga Allah merahmati kalian bahwa makanan halal akan menyinari hati dan melembutkannya dan menyebabkan adanya rasa takut kepada Allah dan _khusyu’ kepadaNya, memberikan semangat dan motivasi pada anggota tubuh untuk taat dan beribadah serta menumbuhkan sikap zuhud terhadap dunia dan kecintaan pada akhirat. Dan inilah sebab diterimanya amal amal sholeh kita dan dikabulkannya doa-doa kita.”_
Sebagaimana sabda Rasulullah saw kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, “Perbaguslah (jaga kehalalan) makananmu, niscaya doamu akan dikabulkan”.
“Adapun makanan haram dan syubhat maka kebalikan dari yang sudah disebutkan tadi, dia akan menyebabkan kekerasan hati dan menggelapkannya, mengikat (mengekang) tubuh dari ketaatan dan menjadikannya rakus terhadap dunia. Inilah sebab ditolaknya amal-amal ibadah dan doanya.”
Sebagaimana dalam sebuah hadits, di mana Rasulullah saw menceritakan seorang musafir yang bajunya compang-camping, rambutnya berdebu (tidak terurus), dan dia menengadahkan kedua tangannya ke langit (dengan suara lirih dan penuh harapan–red) dia berkata,
“Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku …”
Namun makanannya haram, minumannya haram, bajunya haram dan dimasukkan pada mulutnya makanan haram, maka bagaimana mungkin akan diterima doanya?
Maka berusahalah mencari pekerjaan dan makanan yang halal dan jauhilah keharaman. Dan ketahuilah bahwa kewara’an ini tidak hanya pada makanan saja tapi mencakup semua aspek pekerjaan kita. Berbuat apapun harus dilandasi dengan kehati-hatian dan kewaspadaan, jika masih ragu maka tingglkanlah, khawatir akan terjerumus pada keharaman dan akibatnya pasti fatal.
(Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi ialah penyusun kitab maulid 'Simtud Durar'
Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi ialah seorang ulama dan dai yang masyhur. Beliau merupakan anak bongsu kepada Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi pengarang maulid 'Simthud Durar' yang masyhur. Beliau juga pendiri Masjid ar-Riyadh di Kota Solo (Surakarta). Beliau dikenali sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan - santun serta ramah tamah terhadap sesiapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tetamu daripada berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian. Beliau meninggal dunia pada 20 Rabiulawal 1373H dan dimakamkan di Kota Surakarta. Tempat beliau selepas itu digantikan anakandanya Habib Anis bin Alwi bin Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
Habib Abu Bakar Al-Attas(1) bin Abdullah bin Alwi bin Zain bin Abdullah bin Zain bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Alwi bin Abu Bakar Al-Habshi di lahirkan di Hottah, Hadramaut pada bulan Zulkaedah 1327H (1909M). Beliau adalah merupakan salah seorang daripada guru kepada Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Abdullah bin Abu Bakar bin Aidrus bin Umar bin Aidrus bin Umar bin Abu Bakar bin Aidrus bin al-Husain bin Syeikh Abu Bakar bin Salim, pengasas Rubath Darul Musthofa di Tarim. Guru-guru beliau
• Habib Hussin bin Abdullah al-Habshi
• Habib Alwi bin ‘Abdullah al-Habshi
• Habib Alwi bin Abdullah Benshahab
• Habib Abdullah bin Idrus al-Idrus
• Habib Abdullah bin Umar asy-Syatrie
• Habib Abdul Bari bin Sheikh al-Idrus
• Habib Ahmad bin Abdurrahman as-Saggaf (as-Saqqaf)
• Habib Ahmad bin Mohsin al-Hedhar
• Habib Ali bin Abdurrahman al-Habshi
• Habib Muhammad bin ‘Ali al-Habshi
• Habib Muhammad bin Salim Asree
• Habib Muhammad bin Hadi as-Saggaf
• Habib Umar bin Muhammad Bensmeth
• Habib Hasan bin Muhammad Balfaqih
• Syeikh Mahfuz bin Utsman
• Syeikh Salim Said Bakayir
Apabila kekandanya wafat pada tahun 1369H, ia beruzlah. Beliau menghampirkan diri kepada Ilahi dan tenggelam dengan zikrullah. Ia menghabiskan sepenuh masanya dengan beribadah di dalam keadaan tenag dan juga mengulangkaji kitab-kitab para ulama yang sholeh yang memberi manfaat.
Disebabkan tekanan dari pemerintah Yaman (pada ketika itu Yaman diperintah oleh komunis) beliau telah meninggalkan Hadramaut dan akhirnya bermastautin di Mekah sehingga akhir hayatnya.
Rutin Harian Beliau
Habib Abu Bakar tidak pernah membuang masa. Masanya dibahagikan untuk amal-amal ketaatan, beribadah, kerja-kerja kebajikan, memberi nasihat dan petunjuk di dalam hal urusan orang Islam. Beliau selalu tenggelam dalam zikrullah. Beliau berjaga malam dan terus beribadah sehingga waktu syuruk. Selepas shalat ia memakan sarapan yang ringan dan tidur sebentar.
Pada jam 10 pagi beliau shalat dhuha dan terus berzikir sehingga waktu zohor. Beliau shalat sunat qabliah zohor sebanyak 4 rakaat dan membaca surah Yasin disetiap rakaat. Selepas shalat zohor dan ba’diahnya, beliau makan tengahari dan berehat.
Jam 4 petang ia terus beribadat. Selepas shalat sunat asar 4 rakaat dan beristighfar 70 kali, beliau menunaikan shalat asar dan diikuti dengan zikir, wirid dan mengadakan majlis roha sehingga maghrib Kemudian diikuti dengan shalat fardhu maghrib, sunat ba’diah dan sunat awwabin sehingga masuk waktu isyak.
Habib Abu Bakar membaca ratib al-Haddad selepas selesai shalat isya’ dan ba’diahnya. Selepas makan malam beliau tidur pada jam 10 malam dan bangun semula pada jam 2 pagi untuk memulakan rutin ibadah hariannya.
Amalan beliau ini mencerminkan sebenar-benar isi kandungan kitab tariqah Ba’alawi – al-ilmu Nabras fi Tanbih ‘ala Manhaj al-Akyas oleh kerana beliau:
“….. mengikuti jejak salaf mereka yang berteraskan ilmu dan amal, pembersihan hati dari pekerti buruk, ketaatan dan amal shalih dengan niat yang bersih, berteman dengan orang baik, tidak bergaul dengan orang-orang yang buruk kelakuan, tidak suka terkenal, menjauhi keramaian dan keriuhan disertai mengaku kekurangan diri, berakhlak mulia, bertekad tinggi, warak, zuhud, lemah-lembut, berhati-hati, meninggalkan orang yang memusuhi mereka dan menumpukan perhatian pada hal-hal akhirat ….”
Penulisan
Al-Habib Abu Bakar menghasilkan enam buah risalah dan salah satu daripadanya bertajuk “al-Tazkir al-Mustaffa”
Wafat
Habib Abu Bakar Attas wafat pada 28 Rejab 1416H dan jenazahnya di shalatkan di Masjidilharam dan diusung hingga ke perkuburan Ma’ala oleh ribuan manusia yang berzikir dan bertahlil yang tidak pernah di lihat ditanah haram.
__________________________________
Notakaki:
(1): Gelaran ‘al-Attas’ telah diberikan [kepadanya] oleh Habib Abdullah bin Alwi Al-Habshi. Rupanya ada rahasia disebalik nama gelaran tersebut. Semasa pemerintahan komunis di Hadramaut, hampir semua alim-ulama diburu dan diseksa dan ada yang dibunuh oleh kerana mempertahankan yang hak Allah. Contohnya ialah Habib Muhammad bin Salim bin Hafiz Benshaikh Abu Bakar [ayahanda kepada Habib Umar], mufti Hadramaut yang ditangkap oleh pihak tentera selepas memberi khutbah dan shalat di Masjid Jame’ Tarim. [ketika terjadinya peristiwa ini, Habib Umar yang ketika itu berusia 9 tahun ada bersama ayahandanya] Ianya hilang ghaib begitu sahaja. Habib Abu Bakar termasuk golongan di dalam ‘hit list’. Dengan izin Allah, ia mengetahui rancangan kejam kerajaan dan sempat mengumpulkan kelurganya dan berlepas ke Jeddah melalui pesawat di
Dia seorang Imam al-Qutb yang tunggal dan merupakan qiblat para auliya' di zamannya, sebagai perantara tali temali bagi para pembesar yang disucikan Allah jiwanya, bagai tiang yang berdiri kokoh dan laksana batu karang yang tegar diterpa samudera, seorang yang telah terkumpul dalam dirinya antara ainul yaqin dan haqqul yaqin, beliau adalah Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Umar bin Abu Bakar bin Imam (Wadi-al-Ahqaf) Habib Umar bin Segaf Assegaf.
Selain Habib Ali, masih ada lagi yang menjadi syaikhut-tarbiah (guru pendidiknya) yakni pamannya tercinta al-Habib Abdullah bin Umar as-Saggaf. Adapun yang menjadi Syaikhut-Tasliik (guru pembimbing beliau) Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi (gambar sebelah). Sedang yang menjadi syaikhul-fath (guru pembuka) adalah al-Wali al-Mukasyif al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Qutban yang acapkali memberinya khabar gembira dengan mengatakan: “Engkau adalah pewaris haliah kakekmu Umar bin Saggaf"."Berziarahlah kamu kepada orang-orang soleh! Kerana orang-orang soleh adalah ubat hati."
(Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas)
"Seindah-indahnya tempat di dunia adalah tempat orang-orang yang soleh, kerana mereka bagai bintang-bintang yang bersinar pada tempatnya di petala langit."
(Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad)
"Setiap sebab (penyebab pertalian keturunan) mahupun nasab (pengikat garis keturunan) akan terputus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku, dan setiap keturunan dinisbatkan kepada pengikat keturunannya yakni ayah mereka, kecuali putera-putera Fatimah, maka sesungguhnya akulah ayah mereka dan tali pengikat keturunan mereka" (Riwayat Al-Baihaqi, Al-Tabrani & lain-lain)