Tampilkan postingan dengan label Taman Habaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taman Habaib. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 14, 2008

Imam Syafie dan Cinta Ahlul Bait

Cinta buta sang imam itu telah membuat air mata hatinya semakin deras bercucuran, dan tak henti-hentinya membisikkan "Oh..." dalam sanubarinya. Cinta penuh misteri itu telah menjadi warisan misterius dari generasi ke generasi. Ia tak dapat dicari bahkan tak mudah dimengerti. Ia hanyalah anugerah termahal bagi mereka yang benar-benar berhati. Tidak dapat dibayangkan, cinta itu mampu menembus seluruh langit sampai ke titik final. Karunia cinta itu mampu menyatukan masa depan dan masa silam dalam satu waktu yang tak lagi mengenal zaman. Limpahan cinta itu laksana musim semi yang menerangi hati. Ia tak lekang oleh panas dan tak lapuh oleh terpaan angin hujan.

Tiada harapan yang terdetak dari sosok Imam Syafie melainkan Ahlul Bait. Harapan tak berujung itu senantiasa bersenandung dan mengibarkan sayapnya, terbang menuju angkasa bersama bintang-bintang yang semakin menyipratkan sinarannya, seraya mengumandangkan "Oh... Oh...". Ia tak tahu kata apa yang pantas untuk mengekspresikan rasa yang ada, rasa yang semakin menyala-nyala, rasa yang tak kenal sebabnya, rasa yang dipercikkan oleh tinta beningnya, dan rasa yang terungkap oleh segenggam kebisuannya. Apakah cinta itu suci dan sejati? Ataukah hampa dan sekedar ilusi? Setertutup itukah kau, Imam Syafie?!

Ketergila-gilaan Imam Syafie terhadap Ahlul Bait telah menjerumuskan sekelompok orang ke dalam lubang penyesatan. Tanpa perasaan sedikit pun, kelompok itu menyesatkan (menuduh sesat) Imam Syafie dan menggolongkannya dalam komunitas Rafidhah. Sekali lagi, Imam Syafie terlanjur gila kepada Ahlul Bait. Ia hanya merespon mereka dengan sahutan halus namun begitu kencang: "Bila cinta Ahlul Bait dinilai Rafidhah, maka bersaksilah hai segenap manusia dan jin, bahwa aku bersedia dikatakan Rafidhah!". Ia tak peduli nama ataupun panggilan, karena ia sebatas ingin bercinta dan bercinta.

Di waktu lain, Imam Syafie masih saja dianggap berlebihan mencintai Ahlul Bait. Ia dituduh melakukan sekaligus meneladankan bid'ah. Namun lagi-lagi, ia terlanjur jatuh dan terjatuh, jatuh cinta kepada Ahlul Bait. Imam Syafie justru membalas: "Bila cinta Ahlul Bait dinilai bid'ah, maka cukuplah bid'ah itu sebagai bekalku seumur hidup!". Di waktu lain pun ia masih bertahan dan bersaksi: "Bila cinta Ahlul Bait dinilai dosa, maka aku tidak akan pernah bertaubat dari dosa itu!". Sampai membuatkan kita terhairan-hairan. Ada apa dengan cinta Ahlul Bait?!

Tanda tanya itupun terjawab oleh imam yang sama, imam yang semakin tergila-gila oleh keluarga Baginda. Imam Syafie dengan hati melayang, melantunkan pernyataan sekaligus seruannya: "Hai Ahlul Bait, mencintaimu adalah kewajiban umat. Itulah ketetapan Allah dalam al-QuranNya. Cukuplah sebagai tanda keagunganmu; tidak akan pernah diterima solat seseorang yang enggan berselawat kepadamu!".

Terlepas dari identitas dan biografi Imam Syafie yang sudah tidak asing lagi di hati, Ahlul Bait adalah perahu keselamatan umat. Cinta Ahlul Bait adalah agama Islam sepenuhnya. Cinta Ahlul Bait adalah kunci rahmah dan barakah Allah. Cinta Ahlul Bait adalah segala-galanya! Al-Quran dan as-Sunnah pun telah dipenuhi pelbagai himbauan dan seruan kepada cinta Ahlul Bait, tiada lain karena cinta Ahlul Bait mengandung rahasia dan satu-satunya khasiat yang luar biasa, namun hanya sanggup dirasa oleh sang pecandunya; pecandu yang kenal siapa Ahlul Bait sebenarnya, pecandu yang cintanya natural tanpa direkayasa, pecandu yang membuktikan cintanya dengan ketaatan yang nyata, pecandu yang mengekspresikan cintanya dengan segala macam cara, pecandu yang beraqidah benar dan tidak melampaui batas-batasnya.

Jumat, Oktober 03, 2008

Salam Aidilfitri 1429H: Secebis Kisah Ulama Di Hari Raya

Salam Aidilfitri 1429H dan salam kemaafan dari saya buat seluruh kaum muslimin & muslimat terutama buat pengunjung blog saya ini. Sempena hari raya ini, saya hendak membawakan secebis kisah ulama di hari raya ini. Sama-sama kita susuri.

Haji Abdul Rahman Limbong ialah ulama yang kuat beramal. Sebahagian besar daripada waktu malam digunakannya untuk beribadat kepada Allah, terutamanya pada bulan puasa.

Pada setiap hari raya pula, beliau lazimnya mengurungkan diri di dalam rumahnya selepas sembahyang hari raya dan beribadat tanpa menghirau mereka yang datang membawa makanan untuknya. Sikap ini dapat diertikan bahawa beliau tidak ingin menggalakkan orang ramai bersusah payah menyediakan makanan untuknya, sebagaimana yang menjadi amalan masyarakat Melayu tradisi yang sangat mengambil berat terhadap orang-orang alim. Tambahan pula Haji Abdul Rahman amat menghalusi asal-usul makanan, bagi mengetahui halal-haramnya.

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki biasa memberikan pelajaran baik di Masjidil Haram atau di rumah tidak tertumpu kepada ilmu tertentu seperti di universiti. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Muhammad. Maka dari itu beliau selalu menitik-beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas solat Maghrib sampai Isyak di rumahnya di Hay al-Rashifah.

Begitu pula setiap bulan Ramadhan dan hari raya beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau darjat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama-sama.

Kamis, September 11, 2008

Bersama Orang Soleh Di Bulan Ramadhan

Para sahabat, tabiin dan orang-orang soleh lainnya benar-benar mengetahui hikmah dari disyariatkannya puasa Ramadhan. Mereka meyakini, Allah tidaklah mensyariatkan puasa Ramadhan dengan sia-sia. Puasa Ramadhan tidak hanya sekadar meninggalkan kebiasaan makan dan minum saja. Tapi lebih dari itu, puasa disyariatkan guna mengingatkan manusia bahawa mereka memiliki Ilah yang harus diibadahi.

Segala praktik yang dilakukan para salafus soleh adalah praktik ibadah demi menggapai redha Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, "Seandainya umatku mengetahui apa yang terdapat pada Ramadhan, mereka berharap Ramadhan sepanjang tahun."

Pada bulan ini, Allah SWT memberikan berbagai keistimewaan yang tidak diberikan di bulan - bulan lain. Bayangkan, betapa Allah memuji bau mulut orang yang sedang shaum dengan menyatakannya lebih harum dari wewngian kasturi. Itu baru bau mulut saja, belum lagi praktik - praktik ibadah lainnya semisal membaca Al-Qur'an dan qiyaamullail.

Para sahabat menjadikan Ramadhan sebagai salah satu representasi kenikmatan terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam. Sungguh menarik apa yang dilakukan para sahabat dalam menata kehidupannya setiap tahun.

Setiap puasa Ramadhan, Abu Hurairah ra dan para sahabat lainnya lebih banyak berdiam diri di masjid. "Kami menjaga puasa kami," begitu kata mereka. Selain itu, para salafush shalih senantiasa berhati-hati dalam berbicara. Di luar Ramadhan saja, mereka selalu berkata dengan perkataan baik, apalagi ketika Ramadhan. Pasalnya, rasulullah saw mewanti-wanti agar menjaga ucapan.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, "Semua amalan anak-anak Adam untuknya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, 'Aku sedang berpuasa'. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wangi kasturi, orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya." (Bukhari 4/88, Muslim no. 1151, Lafadz ini milik Bukhari).

Dan di antara amalan-amalan ibadah yang utama dan dilakukan salafush shalih adalah qiyaamullail. Diriwayatkan, Abu Bakar ash-Shiddiq senantiasa melaksanakan shalat di malam hari dengan khusyuk dan sampai meneteskan air mata. Sementara Umar bin Khattab, setelah melakukan shalat malam, beliau membangunkan keluarganya untuk shalat malam sembari menyitir ayat al-Qur'an di surat Thaha ayat 132 yang berbunyi, "Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberikan rizki kepadamu.Dan akibat itu adalah bagi orang yang bertakwa."

Begitu pula halnya dengan Manshur bin al-Mu'tamir. Jika malam yang semakin larut menjelang, dia langsung mengenakan pakaian terbaiknya lalu naik ke atap rumahnya, dan shalat. Tak ketinggalan juga Sufyan ats-Tsauri. Abdul Razaq, salah seorang muridnya, menceritakan, "Suatu saat, Sufyan ats-Tsauri mendatangiku selepas Isya, lalu aku menghidangkan makanan malam yang meliputi kismis dan pisang. Setelah selesai, ia bangkit untuk berwudhu lalu mengencangkan ikat pinggangnya dan menghadap kiblat. Lalu dia berkata, "Wahai Abdul Razaq! Beri makan keledai." Selanjutnya dia meluruskan kakinya dan shalat hingga waktu subuh menjelang."

Ibnu Wahab memiliki cerita lain lagi. Dia menceritakan, "Aku melihat Sufyan ats-Tsauri di Masjidil Haram selepas Maghrib. Dia melaksanakan shalat dan bersujud. Dia tidak mengangkat kepalanya sampai menjelang waktu Shalat Isya."

Meski tidur bernilai ibadah, para ulama justru mengekang keinginannya untuk mengatupkan mata. Itulah yang dilakukan oleh wanita salafus shalih, Mu'adzah al-'Adawiyah, yang senantiasa melakukan shalat malam, mengatakan, "Aku heran dengan mata-mata yang terpejam. Selama tertidur, aku membayangkan gelapnya kuburan, aku selalu menangis."

Ibnu Qayyim al-Jauziyah malah memberikan peringatan kepada kita tentang waktu tidur yang tidak disukai Allah. "Di antara tidur yang tidak di sukai adalah tidur di antara Subuh dan matahari terbit, karena ia merupakan waktu untuk memperoleh hasil."

Dari Abu Umamah ra diriwayatkan, Rasulullah mengajarkan kepada kita, "Barangsiapa shalat Subuh berjamaah kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari, lalu ia mendirikan shalat dua rakaat, maka seakan-akan ia mendapatkan pahala haji dan umrah dengan sempurna."

Lalu, kapan waktu tidur? Imam al Ghazali memiliki tips yang sangat luar biasa memanfaatkan waktu untuk tidur dan mengumpulkan tenaga. Tidur dan istirahatlah menjelang shalat dzuhur atau sesudahnya. Kurang lebih selama 15 atau 30 menit. Al-Ghazali menceritakan, "Qailullah adalah simpanan energi bagi mereka yang ingin melakukan qiyamul lail pada hari itu."

Dalam Kitab al-Muwatha, Imam Malik menuturkan, Abdullah bin Abi Bakar mengulang perkataan ayahnya yang mengatakan, "Setiap setelah melangsungkan shalat malam, kita menginstruksikan pembantu untuk menyiapakan makanan, karena dikhawatirkan fajar segera menyingsing."

Bahkan, Imam Malik memiliki kebiasaan memaksimalkan kemuliaan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Caranya, selama bulan Ramadhan, Imam Malik menutup rapat semua kitab, tidak berfatwa dan tidak melayani diskusi dengan orang lain. "Bulan ini adalah Ramadhan, bulannya al-Qur'an," ujar beliau sambil menunjukkan mushafnya.

Sedangkan Imam Ahmad memiliki kebiasaan tersendiri setiap kali Rmadhan datang menghampiri dengan segala kemuliaannya. Sejak hari pertama Ramadhan, beliau akan memasuki majid dan menetap didalamnya. Bertasbih dan istighfar, memuji dan memohon ampunan. Setiap kali ia berhadas, maka Imam Ahmad berwudhu dan kembali ke dalam masjid melakukan aktivitasnya. Ia tidak pernah pulang ke rumah kecuali untuk makan, minum dan tidur barang sebentar. Mereka semuanya ingin mereguk kemuliaan Ramadhan dengan sempurna, dan tak ingin memiliki penyesalan ketika bulan mulia itu berakhir masanya.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menggarisbawahi pentingnya berdiam diri di masjid di dalam bulan Ramadhan. "Allah mensyariatkan ibadah puasa atas mereka untuk menghilangkan kebiasaan makan dan minum secara berlebihan, serta membersihkan hati dari noda - noda syahwat yang menghalangi hamba menuju Penciptanya. Disyariatkan pula I'tikaf, dan dengan ibadah ini ditambatkan hati untuk selalu mengingat Allah, menyendiri dengan-Nya, menghentikan segala kesibukan yang berhubungan dengan makhluk-Nya dan menghabiskan waktu hanya untuk Allah semata. Sehingga kegundahan dan luka hati, terhapus dan diisi dengan dzikrullah, mencintai dan menghadap pada-Nya."

Selain shalat malam, para salafush shalih juga mengisi Ramadhan dengan aktivitas membaca al-Qur'an. Lihatlah, di bulan Ramadhan, Utsman bin 'Affan menamatkan bacaan al-Qur'an sekali setiap harinya. Sedangkan az-Zuhri, diceritakan mengurangi kegiatan mendengar hadist dan majelis ilmu untuk lebih banyak berinteraksi dengan al-Qur'an. Sementara Ibrahim an-Nakha'i, jika memasuki hari kesepuluh terakhir di bulan Ramadhan, mengkhatamkan al-Qur'an setiap malam.

Selain itu, para sahabat juga berlomba-lomba memberi makan dan menyediakan buka puasa untuk kaum Muslimin. Bahkan diriwayatkan, setiap Ramadhan, Ibnu Umar selalu berbuka bersama para dhu'afaa, orang - orang yatim dan miskin.

Dari sini dapat ditarik pelajaran, Ramadhan sejatinya disambut kaum Muslimin dengan kesadaran tinggi akan pentingnya ibadah dan keredhaan Allah SWT.

Minggu, Agustus 10, 2008

Undangan Haul dan Ziarah Kubra Ulama dan Auliya' Palembang Darussalam Tahun 2008

Assalamualaikum,
Dengan harapan untuk mendapatkan redha dan rahmat Allah SWT serta keberkahan dari wali-waliNya , maka kami mengundang anda sekalian untuk menghadiri acara :

Rauhah & Haul Al Faqihil Muqadam Tsani Habib Abdurrahman As-Seggaf
Yang Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari: Sabtu
Tarikh: 21 Syaaban 1429H/23 Ogos 2008
Waktu: Selepas Asar (Solat Asar Berjemaah)
Tempat: Gedung Baalawi 10 Ilir (Sungai Bayas) Palembang

Ziarah Kubra Ulama dan Auliya’ Palembang Darussalam

Yang Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari: Sabtu
Tarikh: 22 Syaaban 1429H/24 Ogos 2008
Waktu:
1. 06.30 - 08.30 (Haul Habib Abdullah bin Idrus Shahab serta Habib Abdurrahman bin Ahmad Bin Hamid, Sungai Bayas)
2. 8.30 - Selesai (Ziarah Kubra Ulama dan Auliya’ Palembang Darussalam. Semoga Allah SWT meringankan kaki kita, untuk menghadiri acara yang penuh berkah ini)
Informasi:
Abdullah Farhan Syeikh Abubakar (0711-7331004 / 08153813115)
Ustaz Mahdi Muhammad Syahab (0711-7317060 / 08194869677)
Abdullah Syukri Syahab (0711-7037756 / 081532753400
Gasim bin Abdullah Alkaf (0711-7012313)


http://ibnsyihab.wordpress.com

Jumat, April 11, 2008

Majlis Maulidur Rasul S.A.W. & Haul Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

Di:

Masjid Putrajaya

Pada:

19 April 2008
(Selepas solat Asar)

Penceramah & Para Ulama:

1. Syeikh Dr. Rafi' Al-Ani
(Mufti Iraq)

2. Habib Umar bin Hamid Al-Jailani (Makkah)

3. Habib Abas bin Alawi Al-Maliki (Makkah)

4. Prof Dr. Ibrahim Abu Muhammad
(Pemikir Islam di Dewan Agung Islam Australia)

5. Habib Hassan bin Muhammad Salim Al-Attas (Singapura)

6. Syed Afeefudin Al-Jailani

Rabu, Maret 19, 2008

Salam Maulidur Rasul 1429H


Selamat menyambut Maulidur Rasul 1429H saya ucapkan buat seluruh kaum muslimin dan muslimat. Sempena Maulidur Rasul kali ini, biarlah sama-sama kita kembali menyusuri sirah Rasulullah saw, meneladani sifat & peribadi Rasulullah saw dan mengikuti segala sunnah Rasulullah saw dengan sebenarnya. Sebagai menghormati Maulidur Rasul ini, saya akan perturunkan sirah mengenai kelahiran, nama & nasab Rasulullah saw. Ikuti perjalanan yang menarik selebihnya sempena Maulidur Rasul ini lebih lanjut di blog sy yg khusus mengenai sirah Rasulullah saw di http://uswahhasanah.blogspot.com

Kelahiran Rasulullah SAW

1. Allah Ta'ala berfirman: "Sungguh Allah telah memberi kurnia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan mereka Al Kitab dan Al Hikmah dan sebelum itu, mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata." (QS. Ali Imran:164)

2. Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah: "Sesungguhnya saya ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa." (QS. Al Kahfi:11)

3. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari Senin. Beliau menjawab: "Pada hari itulah aku di lahirkan, lalu diangkat menjadi Rasul dan diturunkan Al-Qur'an kepadaku." (HR.Muslim)

4. Rasullauh Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dilahirkan pada hari Senin bulan Rabi'ul Awal di Makkah Al Mukarramah tahun Al Fiil (571 M), berasal dari kedua orang tua yang sudah ma'ruf. Bapaknya bernama Abdullah bin Abdul Muthallib dan ibunya bernama Aminah binti Wahb. Kakek beliau memberinya nama Muhammad. Bapak beliau meninggal dunia sebelum kelahirannya.

5. Sesungguhnya termasuk kewajiban seorang muslim adalah hendaknya dia mengetahui kedudukan Rasul yang mulia ini, berhukum dengan Al Qur'an yang diturunkan kepadanya, berakhlak dengan akhlaknya serta mengutamakan dakwah kepada Tauhid yang mana risalahnya dimulai dengannya sesuai firman Allah Ta'ala:"Katakan: Sesungguhnya saya hanya menyembah Rabbku dan saya tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya." (QS. Al-Jin:20)

Nama dan Nasab Rasulullah SAW

1. Allah Ta'ala berfirman: "Muhammad adalah Rasulullah." (QS. AlFath:29)

2. Rasullullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Saya memiliki lima nama: Saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi yang Allah menghapus kekufuran denganku, saya Al-Hasyir yang manusia dikumpulkan di atas kedua kakiku, dan saya Al-'Aqib yang tidak ada Nabi pun setelahnya." (Muttafaq 'Alaih). Dan Allah menamakannya dengan "Raufur Rahim"

3. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengenalkan dirinya kepada kita dengan beberapa nama: "Saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al Muqaffy (Nabi terakhir) dan Al Hasyir, saya Nabi At Taubah, Nabi ArRahman." (HR. Muslim)

4. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Tidaklah kamu heran bagaimana Allah memalingkan dari saya cacian orang-orang Quraisy dan laknat mereka? Mereka mencaci dan melaknat saya dengan sesutu) yang sangat tercela, dan saya adalah Muhammad." (HR. Bukhari)

5. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : "Sesungguhnya Allah telah memilih dari keturunan Ismail Kinayah, dan dari Kinayah Allah memilih Quraisy, dari Quraisy Allah memilih bani Hasyim, dan dari bani Hasyim Allah memilih saya." (HR. Muslim)

6. Dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya: "Namailah diri kalian dengan nama-nama saya, tapi janganlah kalian berkuniah (mengambil gelar) dengan kuniah saya. Karena sesungguhnya saya adalah Qasim sebagai pembagi diantara kalian." (HR. Muslim)

Rasulullah SAW, Seolah-olah Kamu Melihatnya

~ Bahawasanya Rasulullah saw adalah manusia yang paling tampan wajahnya, paling bagus bentuk penciptaannya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. (Muttafaq alaih)

~ Bahawasanya Rasulullah saw berkulit putih dan berwajah elok. (Muslim)

~ Bahawasanya badan Rasulullah saw tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, dadanya bidang, janggutnya lebat, rambutnya sampai ke daun telinga, aku (sahabat) pernah melihatnya berpakaian merah dan aku tidak pernah melihat yang lebih indah daripadanya. (Bukhari)

~ Bahawasanya wajah Rasulullah bulat bagaikan matahari dan bulan. (Muslim)

~ Bahawasanya apabila Rasulullah saw gembira, wajahnya menjadi bercahaya seolah-olah seperti belaian bulan dan kami semua mengetahui yang demikian itu. (Muttafaq alaih)

~ Bahawasanya tidaklah Rasulullah saw tertawa kecuali dengan senyum dan apabila kamu memandangnya maka kamu akan menyangka bahawa baginda memakai celak pada kedua matanya, padahal baginda tidak memakai celak. (Tirmizi. Hasan)

~ Dari Aisyah ra, dia berkata

"Tidak pernah aku melihat Rasulullah tertawa terbahak-bahak sehingga kelihatan batas kerongkongnya. Akan tetapi tertawa baginda adalah dengan tersenyum". (Bukhari)

~ Dari Jabir bin Samurah ra, dia berkata:

"Aku pernah melihat Rasulullah saw pada malam bulan purnama. Aku memandang baginda sambil memandang bulan. Baginda mengenakan pakaian merah. Maka menurutku, baginda lebih indah daripada bulan." (Tirmizi, dia berkata: Hadis hasan gharib. Dan disahihkan oleh al-Hakim serta disetujui oleh az-Zahabi)

Sumber:
- Mengenal Peribadi Rasulullah SAW karya Syeikh Muhammad Jamil Zainu
- http://uswahhasanah.blogspot.com

Sabtu, Maret 01, 2008

Menyusuri Taman Habaib


Habib Ali Muhammad Al-Habsyi merupakan salah satu ulama habaib terkenal di Yaman, mahupun di nusantara. Beliau telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin pada usia yang amat muda. Oleh kerananya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.

Banyak sekali ucapan beliau yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.

Habib Muhammad Hadi Assegaf adalah seorang alim lagi arif. Beliau telah mendidik ribuan murid yang kebanyakan menjadi ulama ahli fiqih. Dalam mendidik murid-muridnya, beliau banyak memberikan nasihat-nasihat yang dikemas dalam kisah-kisah yang penuh hikmah. Beliau menyadari bahawa bagaimanapun sulitnya pengertian yang hendak ditanamkan, tetapi kalau dituturkan dalam format kisah-kisah ringan akan jauh lebih mudah dicerna.

Kisah-kisah ini oleh Habib Muhammad bin Hadi disampaikan kepada para muridnya agar mereka lebih rajin menuntut ilmu, giat dalam beramal dan bersungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Habib Abu Bakar Al-Aidrus adalah seorang wali besar jarang yang dapat menyamai beliau di masanya. Beliau termasuk salah seorang imam dan tokoh tasawuf yang terkemuka. Beliau belajar tasawuf dari ayahnya dan dari para imam tasawuf yang terkemuka. Selain itu beliau juga pernah belajar hadis Nabi dari Muhaddis Imam Shakawi.
Salah satu karamahnya jika seorang dalam keadaan bahaya kemudian ia menyebut nama Syeikh Abu Bakar memohon bantuannya. Dengan segera Allah akan menolongnya.
Habib Abu Bakar Muhammad Assegaf adalah seorang yang ghirahnya begitu tinggi dalam mengikuti jalan, atribut dan akhlak keluarga dan Salafnya Saadah Bani Alawi. Majlis beliau senantiasa penuh dengan mudzakarah dan irsyad menuju jalan para pendahulunya. Majlis beliau tak pernah kosong dari pembacaan kitab-kitab mereka. Inilah perhatian beliau untuk tetap menjaga thoriqah salafnya dan berusaha berjalan diatas… qadaman ala qadamin bi jiddin auza’i.
Sungguh beliau tumbuh besar dalam asuhan dan penjagaan yang sempurna. Cahaya kebaikan dan kewalian telah tampak dan terpancar dari kerut-kerut wajahnya, sampai-sampai beliau di usianya ke-3 tahun mampu mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada dirinya. Semua itu tak lain karena power (kekuatan) dan kejernihan rohani beliau, serta kesiapannya untuk menerima curahan anugerah dan Fath (pembuka tabir hati) darinya. Teruskan perjalanan anda menyusuri kisah para ulama habaib melalui taman ke taman pada perjalanan seterusnya melalui Taman Habaib Yaman, Taman Habaib Indonesia, Taman Habaib Arab Saudi dan banyak lagi.